Tujuh tepui tak beraturan menjulang dari lautan awan pagi: massif terdekat terbelah ngarai dengan dua air terjun, di belakangnya menara batu sempit, lempeng panjang, dan puncak miring; sungai cokelat berkelok di hutan zamrud. Tepui terdekat memanjang dan terbelah ngarai di atas lautan awan pagi, enam tepui lain tersebar sampai cakrawala.
  • Puncak 1, AuyaraCerah, angin barat lemah. 31 spesies belum bernama. Rute pertamamu.
  • Puncak 2, KuravénGerimis tiap sore pukul empat, tepat seperti jam dinding. 24 spesies.
  • Puncak 3, IlútepuKabut tebal sampai siang. Jarak pandang dua lengan. 28 spesies.
  • Puncak 4, MareñaBadai petir. Ada yang tidur di sini, dan tidurnya berlumut. 33 spesies.
  • Puncak 5, SarisáAngin barat kencang. Bagus untuk paralayang, buruk untuk topi. 26 spesies.
  • Puncak 6, WaikénEmbun beku tiap subuh. Bawa kaus kaki kedua. 30 spesies.
  • Puncak 7, ArrayánHujan es singkat menjelang malam. Belum ada yang turun membawa catatan. 28 spesies.
Inés Quiroga terbang dengan paralayang oker dan putih menuju puncak pertama.

Tepuira

Kamp 1, 1.120 m. Hari ke-3.

Rute aktif

Kamp 1 ke Auyara

Tujuh puncak, dan tiap puncak hanya punya satu jalan naik. Jalan yang kamu pilih menentukan bekal yang tersisa di atas.

Stamina paralayang82%
Perlengkapan11 dari 14
Berangkat Juni 2027
Mulai Ekspedisi
Dr. Inés Quiroga, rambut kelabu di bawah topi lapangan zaitun, memicingkan mata ke sehelai daun yang ia angkat ke arah cahaya pagi.

Dr. Inés Quiroga

Ahli botani, 61 tahun. Pemimpin ekspedisi, terutama karena tidak ada yang berani melarangnya.

Catatan lapangan, hari ke-3

Daun ini belum punya nama. Tomás bilang mirip daun jambu. Tomás juga bilang tebing tadi cuma setengah jam. Kami mendaki empat jam.

Inés sudah empat belas kali naik tepui. Ini yang terakhir, katanya, dan kali ini ia ingin mencatat ketujuh puncak sebelum lututnya pensiun duluan. Kamu bermain sebagai dia: memilih jalan naik, membaca cuaca, dan mengepres daun ke herbarium sebelum hujan sore datang.

Spesies tercatat
3 dari 200
Puncak didaki
0 dari 7
Lutut kiri
Keberatan
Empat hal yang kamu urus tiap hari

Cara naik ke atas awan

Dunia Tepuira terbuka, tapi tiap puncak punya syaratnya sendiri. Empat sistem ini yang menentukan apakah kamu tiba dengan tali, atau dengan cerita.

Inés memanjat tebing tepui dengan tali tetap, air terjun jatuh ke lautan awan di sampingnya. Inés berlutut dengan kaca pembesar di samping kantong semar hijau bening berurat emas dan seekor katak hitam. Party berkemah di birai berlumut: Inés menulis, Tomás melipat sayap paralayang, Wakü menggulung tali, Felix duduk di kursi lipat. Paralayang oker menikung di antara dua tepui, hujan badai di kiri, pelangi ganda di atas lautan awan.

Ascent

Tiap puncak punya satu rute: tebing, celah, atau angin. Rute tebing menghabiskan tali dan tenaga, rute angin bergantung pada cuaca yang tidak pernah berjanji.

Party, anggota kedua

Tomás Ayala

Pilot paralayang, 29 tahun. Ringan, berisik, dan selalu yakin anginnya bagus.

"Lima menit lagi anginnya pas." Ia sudah bilang begitu sejak hari pertama.

Tomás membuka rute angin. Tanpa dia, separuh puncak hanya bisa didaki lewat tebing, dan tali kalian tidak cukup untuk separuh itu. Ia juga membawa satu-satunya radio, jadi semua orang terpaksa bersikap baik padanya.

Membuka
Rute angin
Kelemahan
Kesabaran
Tomás Ayala, rambut ikal hitam dan jaket oker, menyeringai sambil mengangkat seikat tali paralayang.
Benda yang tidak boleh basah

Herbarium Inés

Tiap spesies yang kamu temukan masuk ke sini: dipres, ditempel, digambar dengan pensil yang sama sejak 1998. Buku ini juga peta. Halaman yang penuh membuka rute baru di puncak berikutnya.

Lima alat di ransel

Tali panjat 60 m. Dipakai di rute tebing. Puncak tinggi menghabiskan dua gulung.

Herbarium Inés terbuka: daun-daun pipih, anggrek yang dipres dan ditahan selotip kertas, pakis kering, dan kaca pembesar kuningan di halaman kanan.
Puncak Mareña saat badai: batu pasir hitam basah, kolam bercahaya hijau beracun, kantong semar, dan tepi tebing yang hilang ke awan. Musgo Viejo, makhluk batu berlumut sebesar tebing, mengangkat kepala dengan mata hijau menyala dan menekan satu tangan lempeng batu ke depan.
Puncak 4, Mareña

Musgo Viejo

Ia tidur di puncak keempat sejak sebelum hutan di bawah punya nama. Lumutnya tumbuh lebih cepat dari catatan Inés. Saat badai datang, ia bangun, dan seluruh puncak ikut bergeser.

Melawan tebing tidak ada gunanya. Baca kapan ia bergerak, nyalakan suar di saat yang tepat, lalu pergi sebelum ia selesai menggeliat.

Tinggi
Kira-kira satu tebing
Bangun saat
Badai
Inés menyalakan suar emas, Wakü berayun dengan akar di atas celah, Tomás membuka sayap paralayang, dan Musgo Viejo menghantamkan tangan batunya dan pecahan batu beterbangan.
Hari ke-19, Mareña. Suar terakhir, dan Tomás bilang anginnya pas.
Rencana Wakü

Tiga lompatan dari Kamp 1

Pilih tiga puncak berurutan. Rute angin memakan stamina paralayang, rute tebing memakan tali, rute celah memakan sedikit dari keduanya. Badai dan dingin menambah ongkos.

Kamp 1
Stamina paralayang100
Perlengkapan14 dari 14
  1. Lompatan pertama belum dipilih.
  2. Kosong.
  3. Kosong.

Party menunggu di Kamp 1. Wakü sudah menggambar tiga lingkaran di peta dan menolak menjelaskan.

Foto lapangan

Enam cetakan dari kamera Felix, dijepit di peta tempat ia memotretnya. Keterangan ditulis tangannya sendiri.

Puncak tepui datar penuh menara batu pasir hitam dan kolam oker, tenda kecil dan paralayang terlipat di bibir tebing, lautan awan di kejauhan. Party ekspedisi berdiri bersama: Inés menunjuk ke kiri, Tomás, Wakü dengan tali akar, dan Felix memanggul kamera kayu.
Kamp terakhir sebelum berangkat

Mulai Ekspedisi

Kami kabari saat tali sudah terpasang: tanggal rilis Juni 2027, rekaman lapangan baru, dan catatan dari tiap puncak. Tersedia di PC, PlayStation 5, dan Xbox Series X dan S.

Platform kamu

Surelmu hanya dipakai untuk kabar Tepuira. Baca Privasi.

Rekaman lapangan